Psikolog Divya G dari Aster Whitefield Hospitals Bangalore menyebut rasa cemas mengulang pakaian berakar dari dorongan membandingkan diri dan mencari penerimaan sosial.
Media sosial yang terus menyajikan foto pakaian baru dan kehidupan tampak sempurna membuat masyarakat menganggap kebiasaan berganti busana sebagai standar wajib.
Divya mengatakan hal ini dapat memengaruhi citra tubuh karena penampilan mulai dikaitkan dengan nilai diri seseorang.
Rasa takut dinilai orang lain saat mengulang pakaian sering kali jauh lebih besar daripada kenyataannya di lapangan.
Pakaian pada hakikatnya hanyalah sarana ekspresi diri, bukan pengukur harga diri, kepercayaan diri, ataupun pencapaian seseorang.
Recap singkat dari artikel aslinya. Bisa aja kurang pas — baca sumber aslinya buat versi lengkap.